Analisis Protein

Jumat, 25 November 2011
2. Sifat amfoter protein.
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui sifat amfoter dari suatu protein. Larutan protein yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan protein dari putih telur dan protein dari susu. Uji sifat amfoter ini pertama dilakukan dengan menambahkan larutan HCl dan indikator kongo dalam masing – masing larutan protein yang akan diuji. Uji ini dikatakan positif apabila dalam larutan protein tersebut terbentuk warna ungu yang mengidentifikasikan bahwa larutan protein tersebut bersifat basa. Hasil praktikum tidak menunjukkan warna ungu tersebut karena dalam praktikum tidak tersedia indikator kongo sehingga tidak bisa mendeteksi sifat asam dari  protein. Langkah berikutnya untuk mengetahui sifat amfoter dari protein meneteskan larutan NaOH yang telah ditambah indikator PP ke dalam masing – masing larutan protein. Uji ini dikatakan positif apabila membentuk warna merah muda atau pink pada larutan protein yang mengindikasikan bahwa protein bersifat basa yang ditunjukkan dengan terbentuknya warna pink pada larutan basa. Percobaan ini telah menunjukkan sifat amfoter dari protein yaitu dapat bereaksi dengan asam ataupun dengan basa, masing – masing menghasilkan kation dan anion (dengan asam membentuk kation sementara dengan basa membentuk anion. Berikut reaksi dari keamfoteran protein :
Dalam suasana asam 

Dalam suasana basa
  

Analisis Hidrolisis Etil Asetat

ANALISIS
Pada percobaan ini bertujuan untuk menentukan orde reaksi hidrolisis etil asetat dalam katalis asam lemah dan asam kuat. Sebelum sampel dicampurkan, kedua sampel atau larutan didiamkan dalam suhu kamar, hal ini bertujuan untuk memperlambat reaksi agar praktikan dapat mengamati reaksi yang terjadi.
Ketika hidrolisis menggunakan asam asetat diperoleh volume NaOH untuk titrasi sebagai berikut:
t (menit)
V NaOH (mL)
0
20.5
5
20.7
10
20.9
20
21.6
30
21.3
50
22.0
100
24.0
~


Sementara volume NaOH yang digunakan saat hidrolisis menggunakan HCl adalah sebagai berikut :
t (menit)
V NaOH (mL)
0
23.3          
5
33.8
10
24.9
20
24.2
30
22.5
50
24.1
100
27.1
~


Analisis Kuantitatif Karbohidrat

Analisis dan Pembahasan
         Pada percobaan pertama, penentuan kadar gula reduksi dengan metode Nelson – Somogyi dibuat larutan standar dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10 mg/100ml dari larutan induk 10mg/100ml, larutan standar tersebut masing-masing ditambah 1ml reagen Nelson Somogyi yang berwarna biru. Penambahan reagen Nelson somogyi ini bertujuan untuk  untuk mereduksi kupri oksida menjadi kupro oksida yang mana K-Na-tartrat yang terkandung dalam reagen Nelson Somogyi berfungsi untuk mencegah terjadinya pengendapan kupri oksida. Selain 5 larutan standar tersebut, dibuat juga larutan blanko dari akuades yang nantinya akan digunakan sebagai pembanding.
         Setelah ditambahkan reagen Nelson somogyi, larutan yang berwarna biru sampai biru kehijauan tersebut dipanaskan 20 menit, tujuan dari pemanasan ini adalah untuk mempercepat proses reduksi kupri oksida menjadi kupro oksida. Lalu larutan didinginkan sampai 25˚C supaya reaksi berjalan stabil, karena apabila terlalu panas kemungkinan akan ada komponen senyawa yang rusak atau habis menguap. Kemudian ditambahkan 1ml reagen arsenomolibdat, penambahan reagen arsenomolibdat ini bertujuan agar bisa bereaksi dengan endapan kupro oksida. Pada peristiwa ini kupro oksida akan mereduksi kembali arsenomolibdat menjadi molibdene blue yang berwarna biru, warna biru inilah yang nantinya akan diukur absorbansinya dengan spectrometer. Hasil yang diperoleh, pada larutan standar semakin pekat konsentrasinya, warna yang dihasilkan setelah penambahan reagen arsenomolibdat adalah semakin hijau kebiruan pekat. Ditambahkan akuades 7 ml pada masing-masing larutan standar agar larutan standar tidak terlalu pekat dan dapat terbaca absorbansinya.

Analisis Pembuatan Garam Rangkap dan Garam Kompleks

Rabu, 23 November 2011
1.     Pembuatan Garam Rangkap kupri ammonium sulfat, CuSO4(NH4)2SO4.6H2O
Pada garam rangkap CuSO4(NH4)2SO4.6H2O yang menjadi ion pusat adalah Cu2+, sedangakan yang menjadi liganya adalah SO42- dan NH4+. Ion Cu2+ ini memiliki bilangan koordinasi 4 yang berarti terdapat empat buah ruangan yang tersedia disekitar atom Cu2+ yang dapat diisi oleh sebuah ligan pada masing-masing ruangan. Jadi pada garam rangkap CuSO4(NH4)2SO4.6H2O, dua buah ruangan diisi oleh SO42- sedangkan 2 sisanya diisi oleh NH4+. Ion yang memiliki bilangan koordinasi 4 seperti Cu2+ ini umumnya molekulnya berbentuk tetrahedron, tapi kadang-kadang ditemukan juga molekul yang memiliki susunan datar (atau hampir datar), dimana ion puat berada dipusat suatu bujur sangkar dan keempat ion menempati keempat sudut bujur sangkar (Svehla, 1990: 95).
Pada proses pembuatan garam rangkap, yaitu melarutkan 1,25 gram Kristal CuSO4.5H2O dengan 0,66 gram (NH4)2SO4 dalam 5 mL aquades dihasilkan warna biru keruh. Warna biru keruh tersebut terjadi sebagai akibat campuran yang kurang sempurna (heterogen). Reaksi yang terjadi yaitu :
CuSO4.5H2O + (NH4)2SO4+ H2O à CuSO4(NH4)2SO4.6H2O
Pelarut aquades digunakan karena air mempunyai momen dipol yang besar dan ditarik baik ke kation maupun anion untuk membentuk ion terhidrasi. dan karena kedua garam yang bereaksi dapat larut dalam air serta tetap berupa satu spesies ion. Larutan kemudian dipanaskan agar semua kristal dapat melarut dan dihasilkan larutan biru yang homogen. Pemanasan juga bertujuan untuk memperepat proses reaksi. Larutan dibiarkan menjadi dingin pada suhu kamar sampai terbentuk kristal. Kemudian kristal disaring untuk memisahkan kristal dari larutannya. Kristal yang diperoleh dikeringkan agar air yang masih ada pada kristal menguap sehingga diperoleh kristal yang betul-betul kering. Setelah itu ditimbang untuk mendapatkan berat kristal yang konstan.

Pembuatan Isomer Cis dan Trans

I.             JUDUL                      : PEMBUATAN ISOMER CIS DAN TRANS KALIUM BISOKSALATODIAKUOKROMAT (III)
II.          TUJUAN                   :
1.      Mempelajari pembuatan garam kompleks kalium bisoksalatodiakuokromat(III)
2.      Mempelajari sifat-sifat cis dan trans garam kompleks kalium bisoksalatodiakuokromat(III)
III.       DASAR TEORI        :
         Isomer adalah molekul atau ion yang mempunyai susunan kimia sama, tetapi struktur berbeda. Perbedaan struktur biasanya tetap ada di dalam larutan, isomer dalam senyawa kompleks yang penting ialah isomer geometri dan isomer optis. Kompleks yang hanya mempunyai isomeri hanya kompleks-kompleks yang bereaksi sangat lambat atau kompleks yang inert. Ini disebabkan karena kompleks-kompleks yang bereaksi cepat atau kompleks-kompleks yang labil, sering bereaksi lebih lanjut membentuk isomer yang stabil.
Berdasarkan pada jenis isomer geometrinya, senyawa atau ion kompleks dapat dibedakan menjadi cis dan trans. Untuk kompleks tetrahedral ada du atipe kompleks yang memiliki bentuk cis dan trans yaitu MA4B2 dan MA3B3.
Jika ligan monodentat diganti dengan multidentat, misalkan bidentat, maka akan dihasilkan tipe kompleks ML2B2, L merupakan ligan bidentat.

Kekuatan Medan Ligan

Pada percobaan kekuatan medan ligan kali ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami teori medan kristal dan mampu membedakan kekuatan medan antara ligan ammonia dan air. Perbedaan kekuatan medan ligan tersebut dibedakan melalui penentuan energy 10 Dq. Nilai 10 Dq merupakan energy yang dibutuhkan untuk terjadinya splitting atau pemisahan orbital d atau electron yang tereksitasi ke tingkat energy yang lebih tinggi ketika diberi enrgi cahaya. Percobaan ini dimulai dengan membuat 3 larutan sampel Cu. Perbedaan ketiga larutan tersebut terletak pada komposisi penambahan campuran NH3.
Pada larutan A, Cu2+ diencerkan hanya dengan air yang nantinya akan memebentuk kompleks aquo tembaga (II). Larutan B, Cu2+ diencerkan dengan air dan ammonia dengan perbandingan volume 50:50, dan larutan C, Cu2+ diencerkan dengan air dan ammonia dengan perbandingan volume 75:25.
Larutan Cu2+ berwarna biru, semakin banyak kandungan ammonia yang terkandung dalam larutan kompleks Cu2+, maka warna biru akan semakin pekat terlihat . Hal ini dikarenakan perbedaan tingkat energy orbital atom yang berikatan dalam masing-masing larutan. Warna biru merupakan warna yang menjadi ciri khas dari senyawa kompleks Cu2+. Warna tersebut adalah warna komplementer yang merupakan gelombang cahaya yang tidak diserap. Ketika warna biru yang terlihat, maka warna yang terserap adalah kuning.

Analisis Sabun

Sabun merupakan salah satu produk yang diperoleh dari minyak. Reaksi pembentukan sabun dari minyak dilakukan dengan mereaksikan suatu alkali (dalam percobaan ini digunakan NaOH) dengan minyak. Reaksi ini dikenal dengan reaksi saponifikasim(penyabunan). Disamping sebagai reaksi pembentukan sabun, reaksi ini dapat menunjukkan adanya asam lemak yang berbeda dalam suatu minyak.
Persamaan reaksi penyabunan secara umum sebagai berikut :
Dalam percobaan membuat sabun kali ini, akan dibuat dua buah sabun dengan bahan dasar yang berbeda, yaitu sabun minyak sawit dan sabun minyak kelapa.

Isolasi Minyak Jahe

Rabu, 02 November 2011

VII.  ANALISIS
Serbuk jahe seberat 8 gram berwarna coklat muda dibungkus dalam kertas saring dimasukkan dalam labu soxhlet, dan pelarut petroleum eter tak berwarna dimasukkan dalam labu dasar bulat atau labu ekstraksi, selanjutnya tahap ekstraksi dilakukan. Digunakan pelarut petroleum eter agar pelarut tersebut mudah dipisahkan dari minyak atsiri karena perbedaan titik didih, dalam hal ini titik didih lebih rendah yaitu 170˚C. Pelarut petroleum eter yang digunakan adalah 100ml.
Hasil ektraksi menghasilkan ekstrak berwarna kuning, disini diharapkan pelarut petroleum eter akan terpisah dari minyak atsiri.
Ekstrak tersebut kemudian diuapkan dengan evaporator dan dijaga agar petroleum eter tidak jatuh kebawah dan bercampur dengan ekstrak. Tujuan dari penguapan adalah untuk memekatkan ekstrak yang diperoleh. Dibutuhkan pelarut petroleum eter 50ml dalam penguapan. Setelah selesai diuapkan, ekstrak yang dihasilkan berwarna coklat, pelarut sisa ditampung, sedangkan ekstraknya ditambah Na2SO4 anhidrous berupa serbuk berwarna putih, fungsi penambahan Na2SO4 adalah agar air dari minyak atsiri dapat diikat oleh Na2SO4 anhidrous. Sehingga hasil yang diperoleh diharapkan murni minyak atsiri yang tidak mengandung air.
Kemudian ekstrak tersebut dipisahkan dengan cara penyaringan, hasilnya adalah minyak jahe (minyak atsiri) berwarna coklat seberat 2,4 gram. Hal ini sedikit menyimpang dari teori, karena minyak atsiri hasil isolasi dari rimpang jahe seharusnya mencapai 1,5-3% dari berat jahe kering, yaitu mencapai 0,12 gram-0,24 gram dari 200 gram jahe kering. Berat minyak atsiri yang terlalu besar tersebut dimungkinkan terjadi karena masih adanya pelarut petroleum eter dalam minyak atsiri, kurang sempurnanya ekstraksi dan penguapan menyebabkan pelarut petroleum eter jatuh ke bawah bercampur dengan minyak atsiri.
Randemen yang diperoleh adalah 0,19%. Indeks bias yang diperoleh dari petroleum eter adalah 1,372448 sedangkan indeks bias minyak atsiri adalah 1,37255.

Vitamin B1 dan B2

Vitamin B1
Tiamina, vitamin B1, aneurin (bahasa Inggris: thio-vitamine, thiamine, thiamin) adalah vitamin yang terlarut dalam air. Tiamina terdiri atas cincin pirimidina dan cincin thiazola (mengandung sulfur dan nitrogen) yang dihubungkan oleh jembatan metilen. Turunan fosfatnya ikut serta dalam banyak proses sel. Tiamina disintesis dalam bakteri, fungi dan tanaman. Hewan harus memenuhi keperluan tiamin dari makanan. Asupan yang tidak cukup menyebabkan penyakit beri-beri, yang memengaruhi sistem saraf tepi dan sistem kardiovaskular. Kekurangan vitamin B1 juga dapat menyebabkan sindrom Wernicke-Korsakoff.
Rumus struktur dari Tiamain adalah :
Tiamin tersusun dari pirimidin tersubsitusi yang dihubungkan oleh jembatan metilen dengan tiazol tersubsitusi. Thiamin memiliki rumus molekul C12H17N4OS, vitamin ini juga memiliki berat molekul 265, 36 gram/ molekulnya.