Titrasi Pengendapan serta Aplikasinya

Minggu, 11 Desember 2011
I.              JUDUL               :  TITRASI PENGENDAPAN  SERTA APLIKASINYA

II.           TUJUAN            :
1.      Membuat dan menentukan (standarisasi) larutan AgNO3
2.      Menentukan kadar Cl- dalam air sumur

III.        DASAR TEORI
Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dan garam yang tidak mudah larut antara titran dan analit. Hal dasar yang diperlukan dalam titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak hanya interferensi yang mengganggu titrasi dan titik akhir titrasi yang mudah diamati.
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini biasanya disebut sebagai Argentometri yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida (pada umumnya) dengan menggunakan larutan standar perak nitrat AgNO3. Titrasi Argentometri tidak hanya dapat digunakan untuk menentukan ion halida, akan tetapi juga dapat dipakai untuk mendapatkan atau menentukan merkaptan (thioalkohol), asam lemak, dan beberapa ion divalent seperti ion phospat (PO4)3- dan ion arsenat AsO43-.


Dasar reaksi titrasi pengendapan ialah terjadinya endapan pada reaksi antara zat analit dengan penitrasi, misalnya :
Ag+ + X- --> AgX(s)   dimana X = halogen
Ag+ + CrO4- --> Ag2CrO4(s)          (merah bata)
Ag+ + SCN- --> AgSCN(s)
Fe3+ + SCN- --> FeSCN2+              (merah)
Dasar titrasi Argentometri  adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipaki adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl.
AgNO3(aq) + NaCl(aq) --> AgCl(s) + NaNO3(aq)
Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan bereaksi dengan indikator. Indikatot yang dipakai biasanya adalah ion kromat CrO4-, dimana dengan indikator ini ion perak akan membentuk endapan berwarna coklat kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Indikator lain yang bisa dipakai adalah tiosianida dan indikator adsorbsi. Berdasarkan jenis indikator dan teknik titrasi yang dipakai, maka titrasi Argentometri dapat dibedakan atas Argentometri dengan metode Mohr, Volhard, atau Fajans. Selain menggunakan jenis indikator di atas, maka kita juga dapat menggunakan metode potensiometri untuk menentukan titik ekivalen.
Indikator K2CrO4 digunakan pada titrasi antara ion halida dan ion perak, dimana kelebiha ion Ag+ akan beraksi dengan CrO42- membentuk perakkromat yang berwarna merah bata (cara Mohr) pada titik ekivalen :
Ekivalen Ag+ = ekivalen Cl-                                    
Indikator ion Fe3+ dapat digunakan pada titrasi antara ion perak dan ion SCN-, dimana kelebihan ion SCN- akan bereaksi dengan ion Fe3+ yang memberikan warna merah. Atau dapat juga digunakan pada titrasi antara ion halida dengan ion perak berlebihan, dan kelebihan ion perak dititrasi dengan ion tiosianat (cara Volhard).

Pada titik ekivalen :
Jumlah ekivalen Ag+ sisa = jumlah ekivalen SCN-
Atau
Jumlah ekivalen Ag+ total = jumlah ekivalen (Cl- + SCN-)
Ketajaman titik ekivalen tergantung dari kelarutan endapan yang etrbentuk dari reaksi analit dan titran. Endapan dengan kelarutan yang kecil, akan menghasilkan kurva titrasi Argentometri yang memeiliki kecuraman yang tinggi, sehingga titik ekivalen agak sulit ditentukan. Hal ini analog dengan kurva titrasi antara asam kuat dan basa kuat dan antara asam lemah dengan basa kuat.
Dalam aplikasi titrasi pengendapan dapat dilihat pada proses desinfeksi air yang sering menggunakan klor, karena  harganya terjangkau dan mempunyai daya desinfektan selama beberapa jam setelah pembubuhan (residu klor). Selam proses tersebut, klor direduksi salama hingga menjadi klorida (Cl-) yang tidak mempunyai daya desinfektan, disampinh itu klor juga bereaksi dengan ammonia. Klor aktif dalam larutan dapat tersedia dalam keadaan bebas (Cl2, OCl-, HOCl) dan keadaan terikat (NH2Cl, NHCl2, NCl3). Klor terikat mempunyai daya desinfektan yang tidak seefisien klor bebas.

I.                   DATA PENGAMATAN

PERLAKUAN
HASIL PENGAMATAN
SEBELUM
SESUDAH
*standarisasi larutan AgNO3 ± 0,1 N dengan NaCl sebagai baku

di timbang ±  0,0501 gram, dipindahkan dalam labu ukur 100 mL, dilarutkan dengan air suling, di encerkan sampai tanda batas, dikocok dengan baik agar tercampur sempurna.
Larutan baku NaCl dipipet 10 mL dimasukkan dalam erlenmeyer 250 mL ditambah air suling 10 mL dan 1 mL indikator KCrO4, dititrasi dengan AgNO3 3 kali.






NaCl = serbuk putih

Larutan NaCl = tak berwarna

Indikator KCrO4 = kuning ++





Warna larutan NaCl setelah ditambah indikator = kuning +

Warna larutan setelah dititrasi = coklat kemerahan



*titrasi 1
Pembacaan skala awal = 0 mL
Pembacaan skala akhir = 9,5 mL
Volume = 9,5 mL

*titrasi 2
Pembacaan skala awal = 9,5 mL
Pembacaan skala akhir = 19,2 mL
Volume = 9,7 mL

*titrasi 3
Pembacaan skala awal = 19,2 mL
Pembacaan skala akhir = 28,8 mL
Volume = 9,6 mL



* penentuan kadar Cl- dalam air sumur

Di ukur berat jenis air sumur dengan piknometer, dicatat tempat pengambilan sampel, dipipet 10 mL, ditambahk 5 tetes indikator K2CrO4 5 %, dititrasi dengan AgNO3 sebanyak 3 kali



air sumur = tak berwarna

K2CrO4 = kuning

AgNO3 = tak berwarna

Massa piknometer = 27,3608 gram

Massa piknometer + air sumur 50 mL = 77,0706 gram

Massa accu zuur = 49,7098 gram

Massa jenis air sumur = 0,9942 gram/mL







*titrasi 1
Pembacaan skala awal = 3,2 mL
Pembacaan skala akhir = 6 mL
Volume = 2,8 mL

*titrasi 2
Pembacaan skala awal = 6 mL
Pembacaan skala akhir = 9 mL
Volume = 3 mL

*titrasi 3
Pembacaan skala awal = 9 mL
Pembacaan skala akhir = 12,2 mL
Volume = 3,2 mL






II.                PEMBAHASAN DAN DISKUSI

1.    Standarisasi Larutan AgNO3 dengan NaCl sebagai baku
Pada percobaan ini di dalam menentukan standarisasi larutan AgNO3 dengan NaCl sebagai baku adalah melalui proses titrasi pengendapan. Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dan garam yang tidak mudah larut antara titran dan analit. Ion Ag+ dan titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl, reaksinya sebagai berikut :
AgNO3(aq) + NaCl(aq) --> AgCl(s) + NaNO3(aq)
Pada percobaan kami tersedia NaCl sebanyak 0,0501 gram sehingga Konsentrasi larutan baku atau larutan NaCl adalah 0,0086 N.
Kemudian diberi penambahan indikator K2CrO4. Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan bereaksi dengan indikator. Dan indikator yang digunakan dalam percobaan ini adalah indikator K2CrO4 dimana dengan indikator ini ion perak akan membentuk endapan coklat kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati.
Sesuai dengan percobaan ini, yakni menentukan larutan standar AgNO3 dengan cara menetrasinya dengan NaCl dan hasilnya adalah sebagai berikut :
Titrasi 1, volume AgNO3 = 9,5 mL
Titrasi 2, volume AgNO3 = 9,7 mL
Titrasi 3, volume AgNO3 = 9,6 mL
Dari sinilah kita dapat mengetahui konsentrasi larutan standar atau Larutan AgNO3.
Titrasi 1 : N2 = 0,0090 N
Titrasi 2 : N2 = 0,0088 N           
Titrasi 3 : N2 = 0,0089 N

Normalitas AgNO3 rata – rata = 0,0089 N

Jadi, konsentrasi rata-rata larutan standar atau AgNO3 = 0,0089 N




2.    Aplikasi Titrasi Pengendapan
Penentuan kadar Cl- dalam air sumur
Sampel pada aplikasi titrasi pengendapan ini adalah air sumur, yang apabila ingin diketahui kadar Cl- di dalamnya, terlebih dahulu kita harus mengetahui berat jenis dari sampel, yaitu air sumur dengan menggunakan piknometer.
Dari percobaan yang kami lakukan, didapatkan massa piknometer sebesar 27,3608 gram, massa piknometer + air sumur 50 mL adalah 77,0706 gram, jadi didapatkan massa air sumur adalah 49,7098 gram. Dari data tersebut, dapat diketahui berat jenis dari air sumur, yaitu 0,9942 gram/mL, ini berarti air sumur memiliki bobot 0,9942 gram dalam 1 mL larutan. Setelah mengetahui bobot air sumur, dilakukan titrasi dengan larutan AgNO3. Hasil dari titrasi adalah sebagai brikut :
Titrasi 1, volume AgNO3= 2,8 mL
Titrasi 2, volume AgNO3= 3,0 mL
Titrasi 3, volume AgNO3 = 3,2 mL
Setelah itu kita dapat mengetahui kadar Cl- dalam Air sumur pada :
Titrasi 1 : 0,8898 %
Titrasi 2 : 0,9534 %
Titrasi 3 : 1,0169 %
Jadi diperoleh kadar rata-rata Cl- adalah 0,9534%.


XI.             KESIMPULAN

Jadi, untuk menetukan (standarisasi) AgNO3 dengan NaCl adalah dengan menitrasi larutan baku NaCl dengan larutan AgNO3 sebanyak 3 kali dengan indikator K2CrO4 sehingga dapat diketahui konsentrasi rat-rata larutan AgNO3 yaitu 0,0089 N. Dan untuk menentukan kadar Cl- dalam air sumur yaitu dengan menitrasi air sumur tanpa di encerkan dengan AgNO3 menggunakan indikator K2CrO4 hingga perubahan warna menjadi coklat kemerahan. Titrasi ini dilakukan hingga 3 kali sehingga kadar Cl- dalam air sumur dapat diketahui yaitu 0,9534 %.

0 komentar:

Posting Komentar