Titrasi Pengomplekan

Jumat, 02 Desember 2011
I.              JUDUL               :  TITRASI PENGOMPLEKAN

II.           TUJUAN            :
1.      Membuat dan menentukan (standarisasi) larutan Na-EDTA

III.        DASAR TEORI

Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per -molekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul.
Dasar reaksi titrasi pengomplekandengan EDTA ialah terbentuknya senyawa kompleks antara beberapa logam (misalnya: CA, Mg, Ni, Zn,Cu, dsb) dengan EDTA. Logam-logam akan membentuk kompleks dengan EDTA pada pH yang berbeda-beda. Ca2+ dan Mg2+ bereaksi baik pH 8-10. EDTA (Etilen Diamine Tetra Asetat) merupakan asam berbaa 4 (H4Y). Akan tetapi yang sering digunakan adalah garam natriumnya (Na2H2Y). Pembentukan kompleks antara ion-ion logam dengan EDTA tergantung pada pH larutan. Indikator yang digunakan antara lain EBT (Erichrome Black T) dan Kalmagit. Indikator tersebut merupakan asam lemah berbasa 3 (H3In). Kesetimbangan disosiasi indikator tersebut akan membrikan warna-warna tertentu dan membentuk kompleks 1:1 denga sujmlah ion logam, sehingga dapat memberikan perubahan warna pada akhir titrasi.

Reaksi – reaksi :
Indikator :                        H2In- --> Hin2- + H+
                                         Merah     Biru
Dengan ion logam            Ca2+, Mg2+, Zn2+, Ni2+ :
                                         Mg2+ + Hin2- -->  MgIn- + H+
                                                                          Merah anggur
Dengan EDTA : MgIn- + H2Y2- -->  MgH2Y2- --> MgH2Y + In3-
                             Merah anggur
                             In3- + H2O --> HIn- + OH-
                                                          Biru
Pada titik ekivalaen :
Jumlah ekivalan Mg2+ = jumlah ekivalen EDTA
Dengan demikian perubahan warna yang terjadi selama titrasi adalah : larutan yang mengandung ion logam seperti di atas setelah ditambah indikator EBT akan berwarna merah anggur, kemudian setelah terjadi ekivalen antara ion logam dengan EDTA dapat dilihat dari terbentuknya warna biru dari indikator dalam bentuk Hin2-.


I.                   DATA PENGAMATAN

PERLAKUAN
HASIL PENGAMATAN
SEBELUM
SESUDAH
Pembuatan dan penentuan (satndarisasi) larutan Na-EDTA ±0,01M.

*Pembuatan larutan CaCl2 ±0,01M
CaCO3 ditimbang ±0,0812 gram
Dipindahkan dalam labu ukur 100 mL
Ditambah aquades 20mL
Ditambah HCl tetes demi tetes sampai gas hilang
Diencerkan dengan aquades sampai tanda batas

*Titrasi
Larutan CaCl2 dipipet 10mL
Dimasukkan dalam erlenmeyer 250mL
Ditambah 1mL larutan buffer pH 10 dan 3 tetes indikator EBT
Dititrasi dengan larutan Na-EDTA 0,01M
Titrasi diulangi 3 kali
·          





CaCO3=serbuk putih



HCl=tak berwarna









Larutan buffer=tak berwarna

Indikator EBT= merah anggur

Larutan Na-EDTA=tak berwarna





Larutan CaCl2=tak berwarna

Larutan CaCl2+larutan buffer=tak berwarna

Larutan CaCl2+larutan buffer+indikator EBT= merah anggur


Setelah dititrasi dengan Na-EDTA=biru


*titrasi 1
Pembacaan skala awal = 18,9 mL
Pembacaan skala akhir = 27,0  mL
Volume = 8,1 mL

*titrasi 2
Pembacaan skala awal = 27,0 mL
Pembacaan skala akhir = 34,9 mL
Volume = 7,9 mL

*titrasi 3
Pembacaan skala awal = 34,9 mL
Pembacaan skala akhir = 42,6 mL
Volume = 7,7 mL



Aplikasi Titrasi Pengomplekan

*penentuan kesadahan total air sumur
Dipipet 10mL sampel air sumur ke dalam erlenmeyer
Ditambah 2mL larutan buffer pH 10
Ditambah 3 tetes indikator EBT
Dititrasi dengan larutan Na-EDTA
Di ulangia kali



Air sumur=tak berwarna

Larutan buffer=tak berwarna

Indikator EBT=merah anggur

Larutan Na-EDTA=tak berwarna



Air sumur
+larutan buffer=tak berwarna

Air sumur+larutan buffer+indikator EBT=merah anggur

Setelah dititrasi=biru

*titrasi 1
Pembacaan skala awal = 25,2 mL
Pembacaan skala akhir = 28,2  mL
Volume = 3 mL

*titrasi 2
Pembacaan skala awal = 28,2 mL
Pembacaan skala akhir = 32,8 mL
Volume = 4,6 mL

*titrasi 3
Pembacaan skala awal = 32,8 mL
Pembacaan skala akhir = 36,7 mL
Volume = 3,9 mL




II.                ANALISIS DATA

Penentuan (standarisasi) Larutan Na-EDTA ±0,01M dengan CaCl2 sebagai baku.
Pada percobaan ini terlebih dahulu membuat larutan baku CaCl2, sedangkan larutan satndar NA-EDTA telah tersedia di laboratorium. Dalam pembuatan larutan baku CaCl2, menggunakan CaCO3 padat yang sudah ditimbang dengan massa 0,0812 gram, kemudian         dipindahkan ke dalam labu ukur dengan menambahkan aquades dan HCl setetes demi setetes sampai gelagak gas (CO2) hilang, kemudian diencerkan hingga terbentuk larutan CaCl2. Hal ini dapat ditunjukkan dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
CaCO3(s) + 2HCl(aq) --> CaCl2(Aq) + CO2(g) + H2O(l)
Untuk mengetahui gelagak CO2 hilang adalah dengan berubahnya larutan menjadi jernih yang semula larutannya keruh.
Larutan CaCl2 yang telah dibuat, kemudian dipipet 10mL dan dimasukkan kedalam erlenmeyer untuk dititrasi dengan larutan standar Na-EDTA. Sebelum dititrasi, larutan baku CaCl2 yang ada pada erlenmeyer ditambah dengan 1mL larutan buffer pH 10 dan indikator EBT 3 tetes. Pada dasarnya, titrasi ini membentuk senyawa kompleks antara ion logan Ca2+ dengan EDTA. Logam-logam akan membentuk kompleks dengan EDTA p[ada pH yang berbeda-beda. Ca2+ bereaksi baik pada pH 8-10. Pembentukan kompleks antara ion-ion logam dengan EDTA bergantung pada pH larutan. Indikator yang digunakan pada percobaan ini adalah EBT (Erichrome Black T). Indikator tersebut merupakan asam lemah berbasa 3 (H3In). Kesetimbangan disosiasi indikator tersebut memberikan warna-warna tertentu dan membentuk kompleks 1:1 dengan sejumlah ion logam, sehingga dapat memberikan perubahan warna pada akhir titrasi. Perubahan warna yang terjadi selama titrasi adalah larutan yang mengandung ion logam Ca2+ setelah ditambah indikator EBT berwarna merah anggur, kemudian setelah terjadi ekivalen antara ion logam CA2+  dengan EDTA dapat dilihat dari terbebtuknya warna biru dan indikator dalam bentuk Hin2-.
Persamaan reaksi sebagai berikut :
Indikator :  H2In- --> Hin2- + H+
                   Merah     biru
Dengan ion logam : Ca2+ maka sebagai berikut =
                           Ca2+ + Hin2- --> CaIn- + H+
                                                   Merah anggur
Dengan EDTA : CaIn- + H2Y2- -->  CaH2Y2- --> CaH2Y + In3-
                           Merah anggur
                           In3- + H2O -->  HIn- + OH-
                                                   Biru
Pada titik ekivalen :
               Jumlah ekivalen Ca2+ = jumlah ekivalen EDTA
Pada saat terjadinya perubahan warna pada akhir titrasi, volume larutan Na-EDTA yang ditunjukkan berturut-turut adalah 8,1 mL, 7,9 mL, 7,7 mL. Sehingga secara perhitungan (pada lampiran) menghasilkan konsentrasi larutan Na-EDTA rata-rata sebesar 0,0103M.

Aplikasi Titrasi Pengomplekan
Pada percobaan ini, kelompok kami memperoleh bagian penentuan kesadahan total air sumur. Pada air sumur, mengandung Ca2+ dan Mg2+, sehingga untuk menentukan kesadahan totalnya, dapat dititrasi langsung dengan larutan standar Na-EDTA. Sebelum dititrasi dengan Na-EDTA, sampel air sumur ditambahakan 2mL larutan buffer pH 10 dan 3 tetes indikator EBT. Baru setelah itu, dititrasi dengan larutan satandar Na-EDTA sampai larutan berubah warna dari merah anggur menjadi biru. Sehingga didapatkan volume larutan EDTA berturut-turut adalah 3 mL, 4,6 mL, 3,9 mL.
Pada titik ekivalen :
mmol sampel air sumur = mmol larutan Na-EDTA
setelah diperoleh mmol sampel air sumur, kita dapat mengetahui massa Ca2+, dan dari massa Ca2+ tersebut, kita dapat menghitung kesadahan dalam garam CaCO3 per liter air 309 mg/L, 474 mg/L dan 395 mg/L, sehingga kesadahan total air sumur rata-ratanya adalah 395 mg/L.


XI.             KESIMPULAN

Dari uraian yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa penambahan larutan buffer pH 10 bertujuan untuk menjaga pH larutan, titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari merah anggur menjadi biru.
Dan diperoleh volume untuk larutan standar Na-EDTA berturut-turut adalah 8,1 mL, 7,9 mL, dan 7,7 mL, sedangkan untuk konsentrasi larutan standar Na-EDTA berturut-turut adalah 0,0100 M, 0,0103 M, 0,0105 M dan konsentrasi rata-ratanya adalah 0,0103 M. Untuk aplikasi titrasi pengomplekan yaitu penentuan kesadahan total air sumur, diperoleh volume larutan standar Na-EDTA berturut-turut adalah 3 mL, 4,6 mL, dan 3,9 mL, sedangkan untuk perhitungan kesadahan total air sumur berturut-turut diperoleh 309 mg/L, 474 mg/L, 402 mg/L dan kesadahan total rata-ratanya adalah 395 mg/L.

0 komentar:

Posting Komentar